SEKILAS SEJARAH PACUAN KUDA GAYO SEBAGAI TRADISI PESTA RAKYAT GAYO


Even
pacuan kuda tradisional gayo yang dilaksanakan sekarang ini merupakan
kelanjutan tradisi yang telah dilakukan masyarakat dimasa silam.
Sebagai sebuah warisan sejarah, peristiwa ini berlangsung setiap tahun.
Dulu acara pacuan kuda di selenggarakan selepas panen padi. Masyarakat
suatu kampung kemudian berkumpul pada sebuah lapangan. Kuda-kuda yang
dipacu itu adalah kuda pembajak sawah. Pada momentum tersebut, sebagai
sebuah hiburan, kuda-kuda itu dipacu. Waktu itu belum ada lintasan
khusus, dan finish di perbatasan sungai. Lingkupnya pun kecil-kecilan
dan lomba antar kampung. Namun dalam dekade selanjutnya, event ini
kemudian memasuki babak sejarah baru, setelah pemerintah kolonial
Belanda masuk. Tepatnya sejak tahun 1926 lomba pacuan kuda lomba pacuan
kuda mulai di garap khusus. Oleh pihak kolonial acara ini dimasukan
sbagai mamperingati hari ulang tahun Ratu Belanda Willhelmina.
Berangkat dari peristiwa monumental inilah, selanjutnya pihak Belanda
mengkontinyuitaskan penyelenggaraan pacuan kuda sebagai bagian dari
pesta kerajaan. Babakan sejarah seterusnya bergerak lain. Indonesia
pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaannya. Seiring
dengan itu, cerita mengenai pacuan kuda juga berubah. Artinya,
penyelengaraannya tidak lagi dikaitkan dengan hari ulang tahun Ratu
Willhelmina, melainkan bergeser menjadi peringatan Hari Ulang Tahun
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai suatu refleksi rasa
suka cita rakyat gayo terhadap Kemerdekaan Republik Indonesia. Dan
penyelenggaraan pun di tetapkan tiap tanggal 18 Agustus sehari setelah
peringgatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesai. Sejak
itulah, atraksi pacuan kuda menjadi tak terpisahkan dengan hari
kemerdekaan. Event tersebut di anggap sebagai ungkapan kegembiraan atas
keberhasilan Indonesia membebaskan diri dari belenggu penjajah.
Atraksi pacuan kuda lalu di padukan acara kesenian Didong Jalu dan
olahraga sepak bola, lomba perahu dan lomba berenang yang berlangsung
di Danau Laut Tawar. Boleh disebut inilah momentum paling kolosal bagi
penyelenggaraan pesta rakyat gayo di dataran tinggi tanoh gayo. Pacuan
kuda di Takengon rada unik. Di samping kuda-kuda yang di pacu adalah
kuda pembajak sawah, juga joki-jokinya pun terhitung anak-anak,
rata-rata berusia 10 -15 tahun. Remaja kecil ini berlatih menunggang
kuda secara otodidak. Maksudnya mereka belajar naik kuda dari kuda-kuda
miliknya masing-masing. Bisa jadi, anak-anak yang di piawai menunggang
kuda memiliki nilai kebanggaan tersendiri. Sebab konon, ukuran
kejantanan seorang laki-laki di buktikan dari bisa tidaknya sang anak
menunggangi kuda yang tanpa di lengkapi perangkat pelana. Dan tak heran
bila, anak-anak remaja di Tanoh Gayo sangat berhasat mempertontonkan
kebolehannya dalam arena pacuan kuda yang dilangsungkan tiap tahun itu.
Sering pula para joki kecil itu mendapat cedera, lantaran terjatuh
dalam pacuan kuda tanpa pelana tersebut.
Memacu Kuda Tanpa Pelana
Tanpa
rasa was-was atau takut, lima remaja berusia 15 tahun mengenakan
celana pendek dan baju kusam dan bertelanjang kaki, dengan sigap
melompat ke atas punggung kuda masing-masing. Hewan itu tak dilengkapi
pelana, seperti layaknya kuda pacu. Cuma sebuah tali kekang menjulur
dari belahan bibir kuda tersebut. Di tangan masing-masing anak yang
masih siswa SMP itu tergenggam lecutan rotan. Kelima kuda ini mengambil
ancang-ancang si garis start. Sementara ribuan pengunjung tampak
mengelu-elukan kuda andalannya. Dan gemuruh sorak tiba-tiba “meledak”
keras bersamaan dengan dikibarkannya bendera start. Maka bagai anak
panah yang lepas dari busur, kuda-kuda yang “dikemudikan” para bocah
ingusan itu melesat cepat pada lintasan yang hanya di batasi dengan
pagar rotan di lapanggan Gelanggang Musara Alun Takengon. Tapi
tiba-tiba baru setangah putaran, seekor kuda terjungkal. Si joki kecil
terpelanting. Penonton menahan nafas. Tapi tak lama berselang karena
sikap jantan dan keberanian yang luar biasa, sang joki bangkit dan
memacu kudanya kembali. Tak tampak dari wajah sedikit pun rasa sakit
atau keluhan. Bahkan sebaliknya seperti tersangsang bangkit dan
melanjutkan permainan. Agaknya atraksi ini juga menjadi ajang
mempertontonkan kejantanan anak laki-laki. Dia mesti kuat dan terlihat
gagah bersama kuda jantannya. Bersamaan dengan itu gemuruh penonton tak
henti menyemanggati si joki. Pemandangan agar dramatik itulah yang
menjadi bagian dari pertunjukan pacuan kuda tradisional gayo di dataran
tinggi tanoh gayo yang berlangsung selama sepekan sekali di awali
tanggak 18 Agustus. Ratusan kuda bertanding dalam arena ini. Kuda yang
di pacu terbagi tiga kategori. Kuda muda (5 tahun ke bawah), kuda
dewasa (5-7 tahun), dan kuda tua (8-10 tahun). (Sumber Depparpostel Daerah Istimewa Aceh)
0 komentar:
Posting Komentar