Rabu, 01 Mei 2013


Ini Kalender Event Festival Danau Lut Tawar 2013

Festival Danau Lut Tawar
Takengon | Lintas Gayo - Serangkaian even budaya, wisata, olahraga dan lingkungan digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) dalam tahun 2013 ini.
Event-event tersebut dikemas dalam Festival Danau Lut Tawar yang merupakan bagian dari pencanangan Visit Aceh Year 2013.
Kepada wartawan, Rabu 10 April 2013, Kadisbudparpora Aceh Tengah, Drs. Karimansyah, I, SE, MM, menjelaskan rangkaian kegiatan tersebut digelar dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Aceh Tengah, baik wisatawan nusantara maupun manca negara.
Dengan even ini, diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kata Karimansyah.
“Pendapatan Asli Daerah tentu akan meningkat seiring dengan semakin bergairahnya usaha kepariwisataan di daerah ini,” kata dia.
Adapun rangkaian kegiatan tersebut ditetapkan oleh Bupati Aceh Tengah dengan nomor surat keputusan 550/183/Disbudparpora/2013 dengan rincian kegiatan antara lain, Festival Didong Jalu (Mei-Juli), Gerakan Massal Pembersihan Danau Lut Tawar dan Lomba Desa Sapta Pesona (28 April 2013).
Di bulan Mei dijadwalkan ada Pentas Seni Budaya Lut Tawar (22-26 Mei 2013), Lomba Perahu Tradisional Gayo (25-26 Mei 2013), Pacuan Kuda di Danau Lut Tawar (25-26 Mei 2013).
Selanjutnya Pemilihan Duta Wisata (13-15 Juni 2013), Lomba Pancing Ikan (14-15 Juni 2013), Festival Panen Padi (29-30 Juni 2013), Lomba Foto Budaya dan Wisata “Gayo dalam Bingkai” (29-30 Juni 2013) dan Gebyar Kreatifitas Perempuan Gayo direncanakan pada minggu ketiga bulan Juni 2013 berbarengan dengan pameran Teknologi tepat Guna (TTG) se-Aceh di Takengon.
Selanjutnya selama bulan Ramadhan akan digelar Ramadhan Fair, dilanjutkan dengan Inilah Gayo 4 (11 Agustus 2013), Pacuan Kuda memperingati Kemerdekaan RI (19-24 Agustus 2013), Gebyar Kemah Sapta Pesona (23-26 Agustus 2013).
Pada bulan September akan digelar Lut Tawar MTB Challenge 2013 (25–29 September 2013) disusul Festival Permainan Tradisional (7-8 September 2013).
Bulan berikutnya ada Lomba Renang Tradisional Perairan Terbuka (20 Oktober 2013), dan berlanjut dengan Festival Kopi Arabika Gayo pada 20-23 Nopember 2013.
Sebelumnya, pada bulan Februari telah digelar Karnaval Budaya dan Takengon Award yang disusul dengan Pacuan Kuda di Belang Bebangka serta lomba Burung Berkicau. Even ini diadakan dalam memeriahkan peringatan Hari Jadi Kota Takengon ke-436.
Untuk informasi lebih lanjut dapat diakses di website www.disbudparpora.acehtengahkab.go.id atau www.wisataacehtengah.com.
“Kita berharap seluruh kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik sesuai tujuan dan tidak terjadi pergeseran jadwal,” demikian Kadisbudparpora, Karimansyah. (LG003)
kalender-even-Festival-Danau-Lut-Tawar-2013

Kamis, 21 Maret 2013

PENDAPAT MEREKA TENTANG KOPI GAYO

Turis Belanda : Kopi Gayo Luar Biasa Enaknya

Wisata Kebun Kopi Arabika Gayo--para bule Belanda ini sangat menyukai wisata kopi dan alam gayo serta keramahan penduduknya (Lintas Gayo | Win.RB)
Takengon | Lintas Gayo - Turis asal Belanda, masing-masing Will, Annemiels, Yantin serta Holis mengatakan bahwa kopi arabika gayo yang mereka minum, luar biasa. ‘The best coffee in the world”, kata Will seraya mengacungkan jempolnya.
Pernyataan itu dikemukakan turis Belanda ini setelah seharian berkeliling gayo dengan menggunakan sepeda gunung yang dipandu Tardi, Guide asal Banda Aceh dari Pelagisindo yang selama ini telah ‘menjual” keindahan gayo sejak tahun 2009.

TIPS MENJADI ORANG BERKEPRIBADIAN BAIK




Tips – Menjadi orang berkepribadian baik
Sekedar tips buat teman-teman agar bisa memiliki banyak teman yaitu dengan memiliki kepribadian yang baik. Nah, sekarang bagaimanakah caramenjadi yang memiliki kepribadian baik tersebut, yaitu dengan merubah kepribadian kita sehingga mudah di senangi oleh orang lain dan memiliki banyak teman.
Mungkin ini dapat
 membantu sedikit agar tema-teman dapat berubah menjadi lebih baik
1.ROYALAH DALAM MEMBERI SEBUAH PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu
 melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus. Walau orang tersebut melakukan kesalahan tetapi dengan memberikan pujian maka kita akan di sukai

AGAR TIDAK MENJADI ORANG PELUPA



1. Pastikan Anda Sarapan
Dengan memakan makanan yang tepat saat sarapan, Anda dapat menjaga sel-sel otak agar tetap sehat. Selain itu, sarapan yang mengandung omega 3, protein, dan serat juga mencegah risiko pikun karena usia. Beberapa makanan yang bisa dipilih adalah, yogurt dengan buah-buahan atau sandwich berisi telur.

2. Tidur Nyenyak & Berkualitas
"Tidur telah diketahui memainkan peran penting dalam konsolidasi kemampuan persepsi," ujar Pearson. Sebuah penelitian menemukan, orang yang tidak tidur setelah melakukan pelatihan, gagal menunjukkan kemampuannya dalam tugas komputer. Oleh karena itu, tidurlah dengan cukup dan berkualitas jika Anda tak ingin menjadi pelupa.

3. Sering Berolahraga
Sebuah tim penelitian dari University of Illinois' Beckman Institute, baru-baru ini menemukan bahwa latihan aerobik dapat meningkatkan serta mempertajam kecepatan berpikir dan volume aktual jaringan otak. Selain itu, berjalan kaki cepat selama 50 menit sebanyak tiga kali dama seminggu dipercaya dapat meningkatkan kualitas otak seseorang.

4. Hindari Mengunyah Permen Karet
Peneliti dari Cardiff University, Inggris mengungkapkan bahwa mengunyah permen karet sebenarnya dapat merusak memori jangka pendek Anda. Ganti permen karet dengan makan yang dapat meningkatkan memori. Misalnya, buah beri, apel, tofu, bayam dan daging merah.

DATARAN TINGGI GAYO

Dataran tinggi Gayo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
On the top of mount kemiri.jpg
Dataran Tinggi Gayo adalah daerah yang berada di salah satu bagian punggung pegunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatera. Secara administratif dataran tinggi Gayo meliputi wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan kabupaten Bener Meriah serta kabupaten Gayo Lues. Tiga kota utamanya yaitu Takengon, Blang Kejeren dan Simpang Tiga Redelong.
Jalan yang menghubungkan ketiga kota ini melewati daerah dengan pemandangan yang sangat indah. Pada masa lalu daerah Gayo merupakan kawasan yang terisolir sebelum pembangunan jalan dilaksanakan di daerah ini. Mata pencarian masyarakat Gayo pada umumnya adalah bertani dan berkebun antara lain padi, sayur-sayuran, kopi dan tembakau. Kegiatan perkebunan kopi dan tembakau dilakukan dengan membuka wilayah hutan yang ada di wilayah ini.
Pada umumnya mayarakat di Aceh, orang Gayo juga dikenal karena sifat mereka yang sangat menentang segala bentuk penjajahan dan daerah ini dulu dikenal sebagai kawasan yang sangat menentang pemerintahan kolonial Belanda. Masyarakat Gayo adalah penganut Agama Islam yang kuat. Masyarakat di Gayo banyak yang memelihara kerbau, sehingga ada yang mengatakan jika melihat banyak kerbau di Aceh maka orang itu pasti berada di Gayo.
GayoLand The word comes from the Gayo: "Pegayon" means the place where the crystal clear spring water where the fish are holy (clean) and crab. Gayo culture has existed since man settled Gayo Gayo highlands region and began to flourish in the first century kingdom Linge XM (IV century). Covering aspects of kinship, social community, government, agriculture, arts and others. Customs as an element of the principle cultures Gayo sacred mupakat behu berdedele (glory for consensus, emboldened by joint), tapered glass gelngan song, bulleted umut song, unison song re, stacking track belo (united firm), lives pelok sara, sara ratip Anguk (Konta inner). And many more words that symbol means togetherness and cohesion.

DIDONG



Arita Didong Group
Didong adalah sebuah kesenian rakyat Gayo yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Kesenian ini diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah.

Daftar isi

PACUAN KUDA GAYO

SEKILAS SEJARAH PACUAN KUDA GAYO SEBAGAI TRADISI PESTA RAKYAT GAYO

kudaKabupaten Aceh Tengah dengan ibukotanya Takengon yang dikenal dengan berbagai sebutan diantaranya “Negeri Diatas Awan”, “Dataran Tinggi Tanoh Gayo” dan “Negeri Antara”. Dinegeri ini berlangsung pesta rakyat gayo tahunan yang menampilkan pacuan kuda tradisional gayo. Tanpa perlu promosi dan  tanpa perlu komando, secara serentak masyarakat yang mendiami dataran tinggi tanoh gayo pada waktu tersebut turun membanjiri kota Takengon. Menyaksikan pesta rakyat gayo dengan even pacuan kuda tradisional gayo berlangsung selama sepekan. Kalau selama ini mereka hanya berkutat di lahan-lahan pertanian yang menjadi tempat mata pencaharian, maka saat sekaranglah waktunya berleha-leha menikmati hiburan tahunan. Uniknya kuda-kuda yang dipacu masa itu adalah kuda yang juga berfungsi sebagai pembajak sawah. Tempat yang dipilih waktu itu sebagai lokasi pacuan kuda adalah Gelenggang Musara Alun, persis terletak dijantung kota Takengon ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Kondisi lintasan tampak sangat bersahaya. Disepanjang lintasan yang dibuat melingkar, hanya dibatasi oleh rotan. Pacuan kuda tradisional gayo merupakan sebuah even yang berlangsung tiap tahun. Peristiwa ini adalah bagian dari peringatan  hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Perhatian masyarakat bertumpu seluruhnya ke arena pacuan ini. Rasanya ada yang belum lengkap kalau masyarakat belum menyakasikan acara ini. Sebuah   pesta rakyat gayo !!!
Dari Ratu Belanda
kuda7kuda1kuda3




  
Even pacuan kuda tradisional gayo yang dilaksanakan sekarang ini merupakan kelanjutan tradisi yang telah dilakukan masyarakat dimasa silam.  Sebagai sebuah warisan sejarah, peristiwa ini berlangsung setiap tahun. Dulu acara pacuan kuda di selenggarakan selepas panen padi. Masyarakat suatu kampung kemudian berkumpul pada sebuah lapangan. Kuda-kuda yang dipacu itu adalah kuda pembajak sawah. Pada momentum tersebut, sebagai sebuah hiburan, kuda-kuda itu dipacu. Waktu itu belum ada lintasan khusus, dan finish di perbatasan sungai. Lingkupnya pun kecil-kecilan dan lomba antar kampung. Namun dalam dekade selanjutnya, event ini kemudian memasuki babak sejarah baru, setelah pemerintah kolonial Belanda masuk. Tepatnya sejak tahun 1926 lomba pacuan kuda lomba pacuan kuda mulai di garap khusus. Oleh pihak kolonial acara ini dimasukan sbagai mamperingati hari ulang tahun Ratu Belanda Willhelmina. Berangkat dari peristiwa monumental inilah, selanjutnya pihak Belanda mengkontinyuitaskan penyelenggaraan pacuan kuda sebagai bagian dari pesta kerajaan. Babakan sejarah seterusnya bergerak lain. Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 memproklamasikan kemerdekaannya. Seiring dengan itu, cerita mengenai pacuan kuda juga berubah. Artinya, penyelengaraannya tidak lagi dikaitkan dengan hari ulang tahun Ratu Willhelmina, melainkan bergeser menjadi peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai suatu refleksi rasa suka cita rakyat gayo terhadap Kemerdekaan Republik Indonesia. Dan penyelenggaraan pun di tetapkan tiap tanggal 18 Agustus sehari  setelah peringgatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesai. Sejak itulah, atraksi pacuan kuda menjadi tak terpisahkan dengan hari kemerdekaan. Event tersebut di anggap sebagai ungkapan kegembiraan atas keberhasilan Indonesia membebaskan diri dari belenggu penjajah. Atraksi pacuan kuda lalu di padukan acara kesenian Didong Jalu dan olahraga sepak bola, lomba perahu dan lomba berenang yang berlangsung di Danau Laut Tawar. Boleh disebut inilah momentum paling kolosal bagi penyelenggaraan pesta rakyat gayo di dataran tinggi tanoh gayo. Pacuan kuda di Takengon rada unik. Di samping kuda-kuda yang di pacu adalah kuda pembajak sawah, juga joki-jokinya pun terhitung anak-anak, rata-rata berusia 10 -15 tahun. Remaja kecil ini berlatih  menunggang  kuda secara otodidak. Maksudnya mereka belajar naik kuda dari kuda-kuda miliknya masing-masing. Bisa jadi, anak-anak yang di piawai menunggang kuda memiliki nilai kebanggaan tersendiri. Sebab konon, ukuran kejantanan seorang laki-laki di buktikan dari bisa tidaknya sang anak menunggangi kuda yang tanpa di lengkapi perangkat pelana. Dan tak heran bila, anak-anak remaja di Tanoh Gayo sangat berhasat mempertontonkan kebolehannya dalam arena pacuan kuda yang dilangsungkan tiap tahun itu. Sering pula para joki kecil itu mendapat cedera, lantaran terjatuh dalam pacuan kuda tanpa pelana tersebut.
Memacu Kuda Tanpa Pelana
Tanpa rasa was-was atau takut, lima remaja berusia 15 tahun mengenakan celana pendek dan baju kusam dan bertelanjang kaki, dengan sigap melompat ke atas punggung kuda masing-masing. Hewan itu tak dilengkapi pelana, seperti layaknya kuda pacu. Cuma sebuah tali kekang menjulur dari belahan bibir kuda tersebut. Di tangan masing-masing anak yang masih siswa SMP itu tergenggam lecutan rotan. Kelima kuda ini mengambil ancang-ancang si garis start. Sementara ribuan pengunjung tampak mengelu-elukan kuda andalannya. Dan gemuruh sorak tiba-tiba “meledak” keras bersamaan dengan dikibarkannya bendera start. Maka bagai anak panah yang lepas dari busur, kuda-kuda yang “dikemudikan” para bocah ingusan itu melesat cepat pada lintasan yang hanya di batasi dengan pagar rotan di lapanggan Gelanggang Musara Alun Takengon. Tapi tiba-tiba baru setangah putaran, seekor kuda terjungkal. Si joki kecil terpelanting. Penonton menahan nafas. Tapi tak lama berselang karena sikap jantan dan keberanian yang luar biasa, sang joki bangkit dan memacu kudanya kembali. Tak tampak dari wajah sedikit pun rasa sakit atau keluhan. Bahkan sebaliknya seperti tersangsang bangkit dan melanjutkan permainan. Agaknya atraksi ini juga menjadi ajang mempertontonkan kejantanan anak laki-laki. Dia mesti kuat dan terlihat gagah bersama kuda jantannya. Bersamaan dengan itu gemuruh penonton tak henti menyemanggati si joki. Pemandangan agar dramatik itulah yang menjadi bagian dari pertunjukan pacuan kuda tradisional gayo di dataran tinggi tanoh gayo yang berlangsung selama sepekan sekali di awali tanggak 18 Agustus. Ratusan kuda bertanding dalam arena ini. Kuda yang di pacu terbagi tiga kategori. Kuda muda (5 tahun ke bawah), kuda dewasa (5-7 tahun), dan kuda tua (8-10 tahun). (Sumber Depparpostel Daerah Istimewa Aceh)